88 views

Islam dan Radikalisme

ISLAM DAN RADIKALISME
Oleh : Ruslan Husen


Sepanjang sejarah peradaban umat manusia yang telah berlangsung berabad-abad lamanya, pemikiran dan aliran radikal selalu muncul dengan berbagai bentuk yang tidak terbatas pada kelompok dan wilayah tertentu. Misalnya dalam tubuh umat Islam terdapat pemikiran dan aliran radikal yang tidak menerima kemajemukan-kenyataan perbedaan pandangan sesama umat Islam sendiri, apalagi perbedaan antar umat beragama. Hingga memaksakan pandangan dan kehendakn yang menjurus pada tindakan kekerasan dan menumpahkan darah. Bentuk pemikiran dan aliran radikal seperti itu, dalam catatan sejarah tidak hanya terjadi ditubuh umat Islam saja, tetapi di tubuh umat Kristen, Hindu dan Budha juga pernah terjadi, yang tidak dibatasi oleh batas geografis tertentu. Hanya saja pola kekerasan di internal penganut agama itu telah selesai, mereka cepat merefleksi dan mengatur posisi mencegah konflik berkepanjangan yang merugikan.

Persoalannya, saat keradikalan pemikiran seseorang atau kelompok tertentu diikuti dengan tindakan ekstrim yang berujung pada potensi kekerasan dan intimidasi hingga konflik sosial. Mereka cenderung menjadikan lawan atau musuh orang-orang atau kelompok yang memiliki pemahaman dan aliran keyakinan yang berbeda dengan dianutnya. Sebab menganggap pemikiran yang dipahami yang benar, sementara pemikiran yang berbeda dengan dirinya adalah tidak benar dan sesat, sehingga harus diluruskan dengan berbagai cara, kendati dengan cara kekerasan, intimidasi dan menumpahkan darah.

Jika potensi pemikiran dan aliran radikal tidak dibendung secara tepat, maka kekerasan dan konflik terbuka dapat saja terjadi. Konflik antar agama atau konflik sesama internal umat beragama, konflik suku, dan konflik aliran kepercayaan dapat saja terbawa apalagi beriringan dengan situasi politik. Ketika terjadi konflik, maka semua pihak akan dirugikan, kehidupan ekonomi macet, kehidupan sosial masyarakat jadi terganggu, sarana dan prasarana publik rusak, bahkan konflik berkepanjangan akan mengganggu stabilitas nasional hingga negara berpotensi terpecah atau hancur.

Fenomena Kekerasan

Fenomena kekerasan akibat perbedaan pemahaman dan aliran keyakinan dapat ditemui dari konflik berkepanjangan yang hingga hari ini terus terjadi, terutama di belahan dunia timur tengah. Banyak motif dan kepentingan negara-negara besar terlibat turut menampah runyam uraian peta konflik timur tengah. Rembesan konflik itu, jika dihubungkan dengan fenomena kekerasan yang terjadi di tanah air, dapat dikatakan memiliki korelasi hubungan erat. Ketika timur tengah bergejolak perang, maka imbas pada ikutan perbedaan pemahaman yang tajam pada kalangan penganut aliran keyakinan di tanah air menjadi terbawa-bawa, bahkan ikut memancing potensi konflik lewat tuduhan-tuduhan menyesatkan.

Pada posisi ini, atas dasar kesamaan ideologi dan empati sesama manusia lantas memunculkan gerakan balas-dendam atau tindakan pembalasan dengan sasaran mereka yakni pihak atau kelompok yang mendukung atau sealiran dengan tertuduh pelaku ketidakadilan di wilayah perang timur tengah tadi. Dengan melakukan kekerasan pada rumah-rumah ibadah atau pada komunitas tertentu penganut agama dan keyakinan berbeda dengan dirinya, hingga tindakan kekerasan itu dilabeli oleh pemerintah sebagai tindakan “teroris”. Selanjutnya, akibat tindakan aparat pengamanan terutama dari kepolisian yang mereka nilai represif, memunculkan sikap berbalik menyerang dan menganggap aparat kepolisian sebagai musuh mereka dan turut menjadi sasaran kekerasan berupa bom bunuh diri dan pembunuhan, tanpa melihat lagi apa agama yang dianut.

Bahkan belakangan aparat pemerintah juga menjadi sasaran tindakan kekerasan dan target pembunuhan, karena dianggap sebagai pihak paling bertanggungjawab atas penanganan kelompoknya yang mereka nilai refresif dan tidak adil. Pemerintah dengan segala sumber daya lantas melakukan tindakan menghambat laju perkembangan sel-sel kelompok radikal ini. Memetakan pola jaringan, dan mengambil tindakan yang perlu guna mengatasi perkembangan pemikiran dan dampaknya. Menggunakan sarana penegak hukum maupun sarana pencegahan dengan pelibatan kelompok masyarakat secara luas. Pada posisi inilah, pola sasaran balasan atau target sasaran kekerasan dari kelompok radikal mengalami perubahan. Jika sebelumnya, sasaran merupakan komunitas agama tertentu (sebutlah penganut Kristen), lantas berubah ke aset-aset dan kepentingan Pemerintah Amerika Serikat-karena dianggap sebagai pelaku pembunuhan massa masyarakat sipil di Palestina, Afganistan, Irak dan sekitarnya. Selanjutnya berbalik menyasar aparat kepolisian-karena dianggap melakukan pembelaan terhadap musuh-musuh mereka dan melakukan tindakan represif yang tidak adil melalui penangkapan dan proses hukum. Hingga terakhir sasaran mengarah kepada pejabat negara yang dituduh bertanggungjawab mengkoordinir tindakan represif terhadap golongan dan aktivitas mereka.

Demikian gambaran singkat fenomena kekerasan yang pernah terjadi di tanah air. Walaupun disadari, masih banyak perspektif argumentasi penyebab, pola tindakan, dan penanganan tindakan kekerasan serupa. Paling tidak, diakui dan tidak terbantahkan bahwa ada pemikiran dan aliran pemikiran yang menjadi akar penyebab dan memberi legitimasi tindakan kekerasan dan pembunuhan akibat perbedaan. Pola ajaran dan rutinitas spiritual bisa saja mereka tampak lebih dari penganut agama lain, tampak begitu sholeh (ahli ibadah) dengan rutinitas keagamaan yang ketat. Namun menyimpan ajaran sekaligus ajakan untuk menentang pemikiran berbeda dari yang mereka anut dan yakini.

Kenyataan ini bukan hal baru dalam pergolakan sejarah Islam, memegang predikat sebagai ahli ibadah namun berani menumpahkan darah sesama muslim. Contoh, Iman Ali bin Abi Thalib harus meninggal dunia karena tubuhnya ditebas pedang beracun saat bangkit dari sujud shalat shubuh oleh seorang Khawarij bernama Abdurrahman bin Muljam. Apakah Ibnu Muljam seorang preman dan tidak mengenal agama? Tidak, Ia merupakan ahli ibadah dan dikenal shalat wajib tepat waktu, melakukan rutinitas puasa, shalat malam dan ibadah sunnah lainnya. Bahkan merupakan guru mengaji, yang pernah dikirim Khalifah Umar bin Khattab ke Mesir untuk melakukan pengajaran Alquran di sana. Sangat ironis, pembunuhan ini menurut kaum Khawarij anggap sebagai tangga untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt melalui tetesan darah dari orang yang mereka tuduh menyimpang.

Padahal siapa Ali Bin Abi Thalib, orang yang telah mereka bunuh. Apakah Khawarij Ibnu Muljam mengetahuinya? Ia mereka mengetahui dengan sebenarnya, yakni Ali merupakan sepupu Rasulullah Saw dan juga mantunya, Ali menikah dengan Fathimah az-zahra (Anak Nabi Saw) yang melahirkan cucu kesayangan Nabi Saw-imam Al-Hasan  dan imam Husein. Ali juga merupakan sahabat sejati Nabi dalam mengarungi medan dakwah Islam yang penuh tantangan, halangan dan rintangan.

Akibat pandangan ideologi yang sempit sekaligus dangkal, hanya menganggap pemikiran dan aliran pemikiran mereka anutlah yang benar, sehingga pemikiran yang berbeda dicap tidak benar, alias ”sesat”. Khawarij berani mengkafirkan Ali, menganggapnya sesat dan  menyesatkan karena tindak berhukum dengan cara Allah Swt, hingga halal darahnya untuk ditumpahkan, dan membunuhnya merupakan jihad menegakkan ajaran agama yang benar. Klaim kebenaran sepihak dengan ikutan tindakan kekerasan dan pembunuhan letak masalah pemikiran dan aliran ini. Penghormatan dan toleransi antar sesama umat manusia menjadi hilang akibat doktrin sempit dan memaksanakan kehendak.

Radikalisme ternyata memiliki akar ideologi yang kuat di kalangan pengikutnya. Mereka melakukan aksi kekerasan bahkan pembunuhan didasari pada pandangan dan keyakinan keagamaan yaitu tafsir terhadap teks Alquran dan Hadits maupun pendapat para tokoh yang menjadi panutan mereka. Para pelaku radikalime sebutlah “teroris” selalu mengklaim bahwa upaya mereka adalah bagian dari aktualisasi ajaran jihad yang dikehendaki Islam. Menurut Wahid Institut dan Ma’arif Institut[1] bahwa beberapa karakteristik radikalisme Islam yaitu:

  • Menghakimi orang yang tidak sepaham dengan pemikirannya;
  • Mengatasnamakan agama bahkan Tuhan untuk menghukum kelompok yang memiliki keyakinan berbeda;
  • Gerakan mengubah negara bangsa menjadi negara agama;
  • Mengganti NKRI menjadi khilafah;
  • Klaim memahami kitab suci, karenanya berhak menjadi wakil Allah untuk menghukum siapapun;
  • Agama diubah menjadi ideologi, menjadi senjata politik untuk menyerang pandangan politik yang berbeda dari mereka.

Perlu antisipasi lahirnya generasi baru radikalime yang bergerak terstruktur, sistematis dan massif. Mereka bisa saja berwujud ahli ibadah yang menyuarakan pembebasan umat Islam dari kezaliman, dan menawarkan jalan menuju surga dengan cara mengkafirkan sesama umat Islam yang kadang diikuti dengan justifikasi kebenaran akan tindakan kekerasan dan pembunuhan. Regenerasi radikalime ini lahir dan bergerak meracuni generasi muda melalui pengajian-pengajian keagamaan dan pemberian bea-siswa lembaga pendidikan. Dalam proses transformasi pemikiran itu dapat diidentifikasi ajarannya yang dengan mudah mengkafirkan sesama muslim, bahkan ustadz, kiyai dan ulama.

Sumber Radikalisme

Gerakan radikal pada pokoknya menghambat kemajuan dan peradaban dunia Islam. Sebab mereka memiliki pandangan untuk menyatukan berbagai aliran, pemikiran dan pandangan umat Islam ke dalam satu tubuh-aliran saja yakni menurut pemahaman mereka. Ini jelas mustahil, perbedaan pandangan merupakan fakta sejarah dan merupakan ketetapan penciptaan yang beriringan dengan perkembangan umat manusia. Tinggal yang penting, mengelola perbedaan pemikiran pada porsi yang tepat, mengakui perbedaan dan menerapkan toleransi. Misalnya, semua pemikiran benar dalam porsi masing-masing, yakni diyakini benar tapi menyimpang potensi salah, atau menganggap pemikiran lainnya salah tetapi memiliki potensi benar. Menetapkan salah dan benar adalah hak preogatif pengadilan Tuhan, dan tidak diserahkan ke manusia, apalagi yang sering mengklaim hanya kelompoknya yang benar. Lalu siapa yang benar dari semua aliran pemikiran dimaksud? yakni siapa yang paling besar manfaatnya bagi kehidupan, dengan mengatasi keterpurukan kehidupan manusia dalam setiap sisi. Dengan pemahaman ini, memupuk sikap dan tindakan berlomba-lomba melakukan kebaikan, mendahulukan akhlak pergaulan harmonisasi manusia.

Sekali lagi, perbedaan pemikiran dan aliran pemikiran merupakan fakta sejarah yang sudah berlangsung berabad-abad lamanya. Bahkan sejak generasi awal manusia, sudah ada klaim merasa diri paling benar, dan menganggap pihak yang berbeda pandangan adalah tidak benar. Ini dicontohkan dengan sisi peristiwa pembunuhan pertama kali manusia, oleh Qabil membunuh Habil. Mereka bersaudara adalah anak-anak dari pasangan Nabi Adam AS dan Siti Hawa ketika sudah diturunkan ke muka bumi setelah diusir dari surga karena makan buah khuldi. Akibat merasa paling benar dan tidak membuka pintu toleransi, akhirnya pembunuhan terjadi-darah tertumpah.

Tidak bisa dipungkiri bahwa dalam agama, secara tekstual ditemukan teks-teks yang bisa memberikan nuansa tindakan radikalisme. Persoalan penafsiran atas teks-teks keagamaan inilah, menimbulkan justifikasi radikalisme atas nama agama, yang beririsan dengan pemahaman keagamaan yang sempit ditambah dengan frustasi menghadapi masalah kebuntuan kehidupan sosial-ekonomi yang berkepanjangan. Padahal tafsir teks keagamaan juga beragam, tergantung dari sudut mana memandangnya, jika dari sudut aliran radikal akan dianggap sebagai perintah agama. Namun dari sisi moderat, mendahulukan akhlak dan toleransi yang dapat diikuti dengan perang jika warga negara telah dibunuh dan terusir dari negaranya.

Lalu apa yang menyebabkan sumber radikalisme di kalangan masyarakat? Radikalisme tidak jalan sendiri, dan bebas nilai. Ada ideologi yang tertanam kuat di kalangan penganutnya, hingga penganutnya mati-matian membela dan mengorbankan apa saja, demi menegakkan keyakinan pemikiran dan mempertahankan eksistensi golongan. Sumber radikalisme ini perlu dicari tahu, guna diketahui pola-pola hubungan dengan tindakan kekerasan dan pembunuhan, hingga ditemukan langkah tepat untuk mengantisipasi perkembangannya.

Menurut Moh. Tholhah Hasan[2], ada dua pandangan yang menjadi sumber gerakan radikal terutama dalam lingkup kehidupan beragama. Pertama, gerakan takfir. Pandangan berbeda dengan mereka lantas dianggap telah menyimpang sehingga menjadi kafir. Saat ada dua pilihan muslim atau kafir, walaupun orang lain beragama Islam namun karena memiliki pandangan berbeda dengan dirinya, maka dikelompokkan sebagai golongan kafir. Demikian pula dengan pejabat, politisi, dan aparat penegak hukum mereka anggap kafir karena tidak menerapkan hukum Islam sesuai dengan pandangannya, bahkan karena penyelenggara negara itu melakukan tindakan kebijakan yang merugikan dan menghambat dakwah Islam, menurut mereka yang berpandangan ekstrim ini dapat dibunuh dan halal darahnya untuk ditumpahkan.

Kedua, heroisme bayang-bayang keberhasilan masa lalu. Mereka berpendapat bahwa masyarakat sekarang sejatinya sama dengan masyarakat awal Islam saat Nabi Muhammad Saw menetap di Mekkah dan Madinah selanjutnya di bawah kepemimpinan khilafah Islamiyah. Apa yang dilakukan dan dipraktekkan oleh Nabi hendaknya itu menjadi panutan dan tuntutan, kendati dengan batasan pemahaman klaim kebenaran sepihak. Mereka menganggap praktek kehidupan masa Nabi dan kepemimpinan khilafah bisa dipraktekkan dan bisa diwujudkan dalam kehidupan kenegaraan saat ini. Adapun keterpurukan kehidupan masyarakat bernegara, dianggap karena tidak menerapkan sistem Islam, makanya harus diubah menjadi negara Islam.

Dapat dipahami, sebenarnya mereka memahami ajaran agama dalam kadar pemahaman sempit dan dangkal, karena hanya mendalami pemikiran dan aliran dari golongan pihaknya saja. Tidak membuka diri akan kemajemukan dan memahami pemikiran dunia Islam, sehingga dapat memetik hikmah dari semua pemikiran mana yang paling benar. Pada posisi ini, mereka telah memonopoli ajaran agama bahkan kebenaran yang seharusnya milik bersama. Ditambah lagi dengan mengambil peran Tuhan untuk menghakimi manusia, dengan berani mengatakan ini sesat dan itu sesat, ini bid’ah dan itu bid’ah. Mereka berusaha menunjukkan eksistensi dan otoritas pemikiran dengan mengambil peluang keterbatasan kehidupan sosial dan kelemahan otoritas dalam negara.

Apalagi soal toleransi, lagi-lagi dinafikkan. Berbeda pendapat, lalu menganggap “lawan” pihak yang berbeda pendapat dengannya. Susah mengakui ada keberagaman dan perbedaan pendapat dari pihak lain. Sikap toleransi tidak pernah ada pada mereka, terutama dengan sesama umat Islam yang berbeda pendapat, demikian pula dengan pemeluk agama lain yang mempersoalkan eksistensi mereka juga akan dianggap sebagai lawan. Parahnya lagi jika diikuti dengan tindakan kekerasan dan pembunuhan.

Toleransi

Setiap negara memiliki tantangan masing-masing dalam mengelola perbedaan, namun terdapat negara yang berhasil mengelola perbedaan warga negaranya hingga lahir persatuan dan kesatuan memperkokoh kehidupan berbangsa dan bernegara. Adanya toleransi masyarakat dalam suatu negara, memiliki hubungan erat antara fakta keberagaman dan kebijakan pengelolaan perbedaan. Banyak faktor berpengaruh mewujudkan kehidupan yang toleran, diantaranya warisan perjalanan peradaban umat manusia seperti karakteristik, kultur, dan keagamaan yang menjadi penyumbang terwujud atau tidaknya kehidupan yang toleran serta ketegasan negara mengayomi warganya.

Selain itu, salah satu penghambat mewujudkan kehidupan sesama yang toleran, yakni adanya paham atau aliran radikal di tengah-tengah masyarakat. Paham ini pada kondisi tertentu menganggap lawan dari pihak yang berseberangan pendapat dengan dirinya, hingga beriirisan dengan situasi geo-politik terutama di wilayah timur tengah yang memicu tindakan kekerasan atau pembunuhan kepada penganut berbeda atau pihak tertentu. Mereka menganggap pendapat dan aliran merekalah yang paling benar, hingga belakangan mereka disebut pemerintah sebagai “teroris”.

Padahal agama Islam telah memberikan petunjuk toleransi dalam kehidupan bernegara, mengakui perbedaan demi keutuhan persatuan sebagai sebuah bangsa. Bahkan bukan hanya dalam Islam, dalam ajaran agama yang lain juga menekankan akan pentingnya nilai dan prinsip toleransi ini. Dalam ajaran agama Islam, menurut Alwi Shihab[3] Alquran berkali-kali menganjurkan untuk saling menjaga persatuan dan hubungan baik bahkan mengingatkan sesama muslim adalah bersaudara. Sebagai saudara, sudah selayaknya saling bekerja sama, bahu-membahu dalam mencapai kebaikan. Sesama muslim diingatkan untuk tidak menghujat hanya karena perbedaan mazhab dan aliran keyakinan, apalagi jika perbedaan tersebut tidak melanggar prinsip dasar keimanan. Untuk itu hendaknya mereka saling menjaga hubungan baik serta tidak saling mencurigai dan berprasangka negatif apalagi saling cemooh dan menghina serta mencari-cari kesalahan sesama.

Demikian pula dengan penganut agama lain, non-muslim. Alquran juga menganjurkan agar berbuat baik dan berlaku adil karena itu merupakan dasar pergaulan. Bukan berseteru, memaki, mencerca apalagi membunuh, dengan catatan selama pihak non-muslim tidak memerangi agama Islam dan selama mereka tidak mengusir umat Islam dari negeri asal. Dengan kata lain, syarat memerangi pihak non-muslim ketika mereka mengusir muslim dari negerinya. Alquran pada posisi ini memerintahkan mempertahankan diri, dan membunuh lawan apabila mereka telah memulai membunuh. Selanjutnya Alquran juga memerintahkan untuk berhenti berperang apabila musuh telah menghentikan agresi. Sebagai contoh warga Palestina dibenarkan untuk memerangi Israel untuk mempertahankan diri karena orang-orang Palestina telah diusur dari negerinya. Namun dalam situasi damai seperti halnya Indonesia, maka perlakuan yang dituntut dari umat Islam adalah perlakukan baik dan adil kepada non-muslim sesama manusia.

Penanganan Radikalisme

Agama pada prinsipnya tidak mengajarkan tindakan radikalisme, agama senantiasa mendahulukan kedamaian, ketenangan, dan kesejahteraan dapat terwujud secara holistik. Radikalisme terjadi akibat pemahaman ideologi yang sempit dan keterbatasan pengetahuan keagamaan, kendati pelaku kekerasan model ini dapat ditemui dengan motif menjalankan ajaran agama menurut pemahamannya. Nampak mereka tidak bisa menerima perbedaan pendapat yang berbeda dengan yang mereka anut. Seolah-olah pendapat merekalah yang paling benar, seolah-olah Tuhan selalu berpihak di mereka hingga dapat menghakimi mana pendapat yang benar dan yang sesat.

Paham radikalime perlu dibendung oleh pemerintah dengan pelibatan pemuka agama dan lembaga pendidikan. Pertama, sosialisasi pemahaman arti penting toleransi. Toleransi yang tertanam dalam diri akan membuat masyarakat saling menghormati dan menghargai antar sesama, menumbuhkan rasa nasionalisme, serta menyejahterakan kehidupan masyarakat. Hadirnya organisasi keagamaan dan organisasi lembaga lintas agama merupakan aset penting bagi terbangunnya perdamaian agama dan perdamaian lintas agama dalan negara bangsa.

Kedua, pemberdayaan lembaga pendidikan, guna menanamkan pendidikan yang menyangkut semua aspek Alquran dan pembangunan akhlak bagi setiap peserta didik. Pemikiran menyimpang dilawan dengan pemikiran Islam yang benar, dengan terus menanamkan ke dasar pemikiran peserta didik. Agar sasaran generasi mendatang dan masyarakat luas dapat memilah dan menetapkan pemikiran Islam yang benar untuk menjamin kehidupan adil dan damai.

Ketiga, penegakan hukum. Hukum sejatinya mampu mendinamisasi tata kehidupan masyarakat lewat penegakan hukum yang tegas dan adil. Pelaku kekerasan dan intoleransi dihukum secara adil dan tegas agar memberi efek jera sekaligus memberi tanda peringatan kepada mereka yang berniat-mencoba melanggar hukum. Tapi, dalam kasus radikalisme ini, penegakan hukum merupakan langkah terakhir dari langkah-langkah penanganan radikalisme dengan pelibatan lembaga masyarakat, yakni setelah dilakukan sosialisasi dan deradikalisasi ideologi.


Catatan Kaki

[1] Wahid Institut dan Ma’arif Institut dalam Abdul Jamil Wahab, 2004, Manajemen Konflik Keagamaan; Analisis Latar Belakang Konflik Keagamaan Aktual. Elex Media Komputindo, Jakarta, hlm. 108.
[2] Moh. Tholhah Hasan, dalam Alwi Shihab dkk, Islam dan Kebhinekaan, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, hlm. 228-229.
[3] Alwi Shihab dkk, Ibid, hlm. 14 dan 34.


Sumber gambar unggulan: voa-indonesia.com